Cerelac Bantu Lengkapi Nutrisi Hariannya Mobile Image Cerelac Bantu Lengkapi Nutrisi Hariannya Mobile Image

Penuhi Kebutuhan Zat Besi untuk Bayi dengan MPASI Terfortifikasi

Mulai usia 6 bulan
30 March 2023
Mulai usia 6 bulan
30 March 2023

Ditulis oleh Dr. dr. Dian Novita Chandra, MGizi – Indonesian Nutrition Association 

Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa kasus anemia masih banyak terjadi pada anak Indonesia. Anemia adalah kondisi kekurangan sel darah merah dan kadar hemoglobin dalam darah, yang untuk pembentukannya membutuhkan zat besi. Kasus anemia yang paling sering terjadi pada anak adalah anemia kurang zat besi (anemia defisiensi besi/ADB).

Hubungan Anemia dan Kurang Zat Besi untuk Bayi

Anemia kurang zat besi dapat memberikan dampak negatif terhadap performa kecerdasan anak, perilaku, dan kemampuan geraknya. Anak menjadi kurang konsentrasi, lambat dalam merespon, dan mudah marah. Berdasarkan fungsi sel darah merah untuk mengantarkan oksigen ke seluruh jaringan dan organ tubuh, ADB juga dapat memberikan dampak negatif dalam pertumbuhan anak yang menjadi tidak optimal. Anemia kurang zat besi yang tidak diatasi dapat menyebabkan dampak jangka panjang yang berlanjut hingga anak dewasa kelak.

Anak usia kurang dari dua tahun lebih berisiko untuk mengalami ADB karena sedang dalam masa pertumbuhan sangat pesat, yang diiringi dengan tingginya kebutuhan nutrisi. Sejak lahir hingga usia 6 bulan, kebutuhan nutrisinya dapat terpenuhi hanya dengan air susu ibu (ASI). Setelah anak berusia 6 bulan, ASI hanya menyediakan kurang dari 50% kebutuhan anak akan berbagai vitamin dan mineral penting, termasuk zat besi. Oleh karena itu, masa pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) mencakup waktu yang paling lama dari 1.000 hari pertama kehidupan anak, sehingga pemberian MP-ASI yang tepat akan menentukan terpenuhinya kebutuhan nutrisi anak.  Hal ini terbukti dalam penelitian Rizki dan Rahayu pada anak-anak Indonesia, yaitu bahwa penyebab utama kekurangan gizi dan anemia pada anak usia di bawah dua tahun adalah pemberian MP-ASI yang tidak tepat.

Usaha untuk melaksanakan rekomendasi mengoptimalkan pemilihan jenis makanan yang padat kandungan nutrisinya sebagai MP-ASI sulit tercapai, karena kapasitas lambung anak yang terbatas. Kapasitas lambung anak usia 6-12 bulan hanya sekitar 20% dari orang dewasa, sehingga anak akan lebih cepat merasa kenyang. Pemberian makanan yang difortifikasi menjadi pilihan yang lebih efektif. Bubur bayi (infant cereal) merupakan salah satu makanan yang direkomendasikan untuk difortifikasi zat besi agar dapat memenuhi kebutuhan zat besi anak kurang dari dua tahun.

Penelitian Diana dkk. yang memantau asupan nutrisi anak sejak usia 6 bulan hingga 12 bulan di Indonesia mendapatkan hasil yang mendukung rekomendasi tersebut. Anak yang mengonsumsi bubur bayi terfortifikasi memiliki asupan zat besi, kalsium, vitamin A dan C yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsi bubur bayi terfortifikasi.

Baca Juga: 6 Manfaat Kandungan Zat Besi Pada MPASI Pertama Si Kecil

Pemenuhan Kebutuhan Zat Besi untuk Bayi dengan MPASI Terfortifikasi

Hasil tinjauan terhadap tujuh penelitian yang dilakukan di negara-negara berkembang oleh Dewey dkk. menunjukkan bahwa pemberian bubur bayi terfortifikasi efektif dalam mengatasi maupun mencegah kasus ADB pada anak usia kurang dari dua tahun. Tujuh penelitian tersebut membandingkan kadar hemoglobin anak yang mengonsumsi bubur bayi terfortifikasi dengan yang tidak. Pemberian bubur bayi terfortifikasi dimulai sejak anak berusia 6 bulan. Didapatkan hasil bahwa anak yang mengonsumsi bubur bayi terfortifikasi lebih tinggi kadar hemoglobinnya dibandingkan yang tidak. Anak yang mengonsumsi bubur bayi terfortifikasi selama 12 bulan lebih tinggi peningkatan kadar hemoglobinnya dibandingkan yang hanya mengonsumsi selama 6 bulan.

Awasthi dkk. memberikan bubur bayi terfortifikasi zat besi pada anak sehat usia 6 bulan, mendapatkan hasil kadar hemoglobin yang lebih tinggi dan kasus anemia yang lebih rendah pada anak yang mendapat bubur bayi terfortifikasi zat besi selama 6 bulan dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsi bubur bayi terfortifikasi. Penelitian ini juga membuktikan bahwa anak yang mengonsumsi bubur bayi terfortifikasi zat besi memiliki perkembangan yang lebih baik dalam kemampuan bahasa, perkembangan pergerakan, sosial-emosional, dan perilaku adaptif dibandingkan dengan yang tidak.

Penelitian Prieto-Patron dkk. yang menggunakan data Indonesian Family Life Survey tahun 2014-2015 dan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017 menemukan hasil bahwa konsumsi bubur bayi terfortifikasi tidak hanya memberikan manfaat bagi anak. Hasil penelitian tersebut mendapatkan bahwa konsumen bubur bayi terfortifikasi lebih rendah beban pengeluaran untuk pengobatan penyakit dibandingkan non-konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan ADB memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya dalam bidang kesehatan, melainkan juga dalam bidang ekonomi.

  1. Pasricha, S. R., Tye-Din, J., Muckenthaler, M. U., & Swinkels, D. W. (2021). Iron deficiency. The Lancet, 397(10270), 233-248.
  2. Rizki, L. K., & Rahayu, E. P. (2020). The effect of suitability of providing complementary foods on the insidence of stunting and anemia in toddlers. Nurse and health: Jurnal Keperawatan, 9(2), 169-176.
  3. Fahmida, U. (2013). Use of Fortified Foods for Indonesian Infants. In: Preedy, V., Srirajaskanthan, R., Patel, V. (eds) Handbook of Food Fortification and Health. Nutrition and Health. Humana Press, New York, NY. https://doi.org/10.1007/978-1-4614-7110-3_30
  4. MacGregor, J. (2008). Introduction to the anatomy and physiology of children: a guide for students of nursing, child care and health. Routledge.
  5. Diana, A., Mallard, S. R., Haszard, J. J., Purnamasari, D. M., Nurulazmi, I., Herliani, P. D., ... & Houghton, L. (2017). Consumption of fortified infant foods reduces dietary diversity but has a positive effect on subsequent growth in infants from Sumedang district, Indonesia. Plos one, 12(4), e0175952.
  6. Dewey, K. G., & Adu‐Afarwuah, S. (2008). Systematic review of the efficacy and effectiveness of complementary feeding interventions in developing countries. Maternal & child nutrition, 4, 24-85.
  7. Awasthi, S., Reddy, N. U., Mitra, M., Singh, S., Ganguly, S., Jankovic, I., ... & Ghosh, A. (2020). Micronutrient-fortified infant cereal improves Hb status and reduces iron-deficiency anaemia in Indian infants: an effectiveness study. British Journal of Nutrition, 123(7), 780-791.
  8. Prieto-Patron, A.; Detzel, P.; Ramayulis, R.; Sudikno; Irene; Wibowo, Y. Impact of Fortified infant Cereals on the Burden of Iron Deficiency Anemia in 6- to 23-Month-Old Indonesian Infants and Young Children: A Health Economic Simulation Model. Int. J. Environ. Res. Public Health 2022, 19, 5416. https://doi.org/10.3390/ijerph19095416

Artikel Lainnya
Sajian MPASI Sesuai Usia si Kecil yang Nikmat dan Bernutrisi 6 bulan

Hal-hal yang Perlu Bunda Pahami Seputar MPASI dan Bubur Nestlé CERELAC

Bingung Pilih MPASI Instan untuk si Kecil? Simak Penjelasan Ini 6 bulan

Bingung Pilih MPASI Instan untuk si Kecil? Simak!

Ini Manfaat Menu MPASI Labu Kuning untuk Si Kecil 6 bulan

Manfaat dan Kreasi Resep MPASI Labu Kuning untuk Bayi